Media Berpengaruh Terhadap Pembentukan Identitas
Oleh : Dwi Surti Junida
Gaya hidup modern di satu pihak dapat di
lihat sebagai produk dari prefosionalisme masyarakat yang semakin
kentara pada abad ke-21 atau mengalami perubahan yang maju, di lain
pihak dia akan menegaskan batas-batas biologis dan social yang memiliki
biaya yang sangat tinggi. Munculnya ruang elektronik dalam proses
kehidupan yang meluas menyebabkan hilangnya proses social learning yang
memungkinkan adanya empati dalam hubungan antar manusia. Penggunaan
media yang cukup berkembang pada masyarakat dewasa ini menegaskan
adanya pengaruh dari pencirian identitas dan tingkah laku masyarakat.
Pemberian informasi di era-globalisasi ini menjadikan media sebagai
salah satu sumber yang cukup berpengaruh dalam pengaksesan segala knowlenge dalam
kehidupan sehari-hari. Transfer berbagai elektronik tak terkendalikan,
penyuntikan virus negatif pun tak terelakkan, khususnya bagi anak-anak.
Sebagai contoh :
Jessica Logan bukan siapa-siapa dan tak
dikenal siapa-siapa. Hanya seorang remaja SMA biasa di Amerika. Namun
pada bulan Juli tahun 2008 gadis 18 tahun yang tinggal di Cincinnati,
Ohio ini membuka mata dunia tentang bahaya sexting. Jessie yang ketika
itu berada di tingkat akhir Sycamore High School tewas bunuh diri di
kamar mandi. Sebabnya, foto telanjang Jessie yang semula hanya untuk
konsumsi sang pacar, belakangan disebarkan oleh sang pria ketika
hubungan pacaran mereka putus. Tak sekedar beredar di antara
teman-temannya, foto tersebut beredar ke tujuh sekolah di sekitar
Cincinnati, bahkan meluas hingga ke tiga negara bagian di Amerika
Serikat. Kenyataan ini membuat Jessie merasa amat malu, terhina,
tertekan dan sekaligus menderita. Apalagi teman-teman putrinya banyak
yang melakukan bullying dengan menjulukinya sebagai ‘pelacur’ ataupun
‘wanita murahan.’ Sebelum tewas bunuh diri, pada medio Mei 2008 Jessie
sempat melakukan wawancara dengan stasiun TV setempat. Ia mengatakan
bahwa ia merasa sangat malu, terhina, dan digoda di mana pun ia berada.
Tidak sekedar sekolah, namun juga di lingkungan rumah dan kemana pun ia
pergi. Termasuk di negeri yang bernama Indonesia. Kasus peredaran video
‘mirip artis Ariel-Luna Maya-Cut Tari’ atau beken dengan istilah
‘Peterporn” (Rabu 7/7/2010) adalah salah satunya.
Sudah cukup banyak masyarakat Indonesia
yang melakukannya. Mulain dari remaja, pemuda, hingga kaum dewasa.
Fenomena ‘peterporn’ hanyalah salah satu yang menyeruak ke permukaan.
Banyak lagi yang belum terungkap. Gejala mengambil foto atau video
bugil dengan menggunakan kamera ponsel, kemudian menyebarkannya.
Beberapa kalangan lebih luas lagi mengartikan Sexting termasuk
penyebarannya melalui teknologi internet, seperti melampirkan di dalam
email atau membubuhkannya sebagai profil atau di galeri dalam situs
jejaring sosial (social networking), misalnya situs-situs: Myspace,
Facebook, Multiply, Friendster, Hi5, dan lain-lain (Peri Umar Farouk,
2009).
Menurut Wikipedia (2005), kemunculan
fenomena sexting dilaporkan paling awal pada tahun 2005 oleh Sunday
Telegraph Magazine, dan setelah itu mendapat perhatian luas di seluruh
dunia, utamanya di UK, Australia, New Zealand, USA, dan Canada. Pada
survei yang dilakukan tahun 2008 pada 1280 remaja dan pemuda baik
laki-laki maupun perempuan oleh Cosmogirl.com terungkap temuan sebagai
berikut : 20% remaja (13 – 19 tahun) dan 33% pemuda (20 – 26) pernah
mengirimkan foto-foto porno atau semi porno diri mereka secara
elektronik. Kemudian, 39% remaja dan 59% pemuda pernah mengirimkan
SMS-SMS bernada seks/porno. Sebagai tambahan data berkenaan dengan
fenomena sexting, Parry Aftab, seorang ahli pengamanan di internet dan
aktivis yang memperjuangkan perlindungan remaja di ruang maya,
mengklaim bahwa: 44% pelajar putra pernah mendapatkan materi porno
teman pelajar putri satu sekolahnya. Dan 15% pelajar putra menyebarkan
materi porno kekasihnya setelah hubungan pacaran mereka putus (Peri
Umar Farouk, 2009).
Pengaksesan segala informasi dari
berbagai media elekrtonik menjadikan pembentukan identitas masyarakat
yang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku mereka. Berbagai fakta
yang telah penulis paparkan di atas menjadi bukti kuat bahwa pengaruh
media berperan besar menjadi pembentukan pencirian seseorang. Terbukti
penyiaran yang tidak sehat telah menjamur di sekitar kita dan
menjadikan anak-anak di negri ini korban yang di sayangkan. Hal ini
sangat berpengaruh terhadap masyarakat yang sekarang sangat mudah
mengaksese informasi.
Penulis adalah anggota Antropeis, seorang mahasiswi jurusan Antropologi Fisip Universitas Hasanuddin Makassar.
Anda ingin mengetahui lebih banyak lagi.
Kunjungi : www.dwiloveislam-dwie.blogspot.com atau twitter@dwiafifaah.com untuk berdiskusi tentang masalah apapun (via message).
Semoga bermanfaat, terima kasih.
Komentar
Posting Komentar
SELAMAT BERGABUNG DI BLOG ANTROPEIS