Postingan

Menampilkan postingan dengan label Label4

Media Berpengaruh Terhadap Pembentukan Identitas

Gambar
Oleh : Dwi Surti Junida Gaya hidup modern di satu pihak dapat di lihat sebagai produk dari prefosionalisme masyarakat yang semakin kentara pada abad ke-21 atau mengalami perubahan yang maju, di lain pihak dia akan menegaskan batas-batas biologis dan social yang memiliki biaya yang sangat tinggi. Munculnya ruang elektronik dalam proses kehidupan yang meluas menyebabkan hilangnya proses social learning yang memungkinkan adanya empati dalam hubungan antar manusia. Penggunaan media yang cukup berkembang pada masyarakat dewasa ini menegaskan adanya pengaruh dari pencirian identitas dan tingkah laku masyarakat. Pemberian informasi di era-globalisasi ini menjadikan media sebagai salah satu sumber yang cukup berpengaruh dalam pengaksesan segala knowlenge dalam kehidupan sehari-hari. Transfer berbagai elektronik tak terkendalikan, penyuntikan virus negatif pun tak terelakkan, khususnya bagi anak-anak. Sebagai contoh : Jessica Logan bukan siapa-siapa dan tak dikenal siapa-siapa. Han...

Suatu Hari Dalam Kehidupan Seorang Antropolog

Oleh : Dwi Surti Junida Antropolog meneliti, menganalisis, laporan, dan membandingkan budaya yang berbeda dan bagaimana mereka tumbuh, berkembang, dan berinteraksi. Bagaimana orang tinggal menawarkan wawasan ke dalam kehidupan modern dan bagaimana secara signifikan (atau, lebih sering, betapa sedikit) kita telah berubah dan bagaimana serupa kita berada dalam sistem interaksi dasar kita. Antropolog dapat melakukan perjalanan ke tanah yang eksotis (travel to exotic lands) dan menghabiskan waktu dalam kondisi primitif (spend time in primitive conditions) atau bekerja di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, membandingkan kekhawatiran antropolog budaya daerah. Dapat membandingkan budaya dunia medis untuk dengan dunia keuangan, atau budaya profesional atlet dengan profesional hukum the culture of professional athletes to that of legal professionals.

Sarjana Antropologi Bukan Seorang Antropolog

Setiap menjalani sesuatu yang baru kita akan selalu dihadapkan pada suatu masalah, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Begitu juga dalam memulai sebuah penelitian baik itu yang dilakukan di dalam ruangan maupun yang dijalani dilapangan. Dalam dunia antroplogi keluar masuk suatu kampung merupakan hal yang lumrah dan telah menjadi kebiasaan. Pindah dari satu desa ke desa yang lain atau satu nagari ke nagari yang lain adalah pekerjaan pokok yang harus dijalani. Tidak ada dalam kamus antropologi seorang antropolog duduk dibelakang meja dan berbicara tentang suatu tempat, tentu saja itu suatu yang sangat memalukan sekali (bagi mereka yang mengaku seorang antropolog). Namun pada perkembangannya dan kenyataannya pada saat sekarang, kecendrungan para antroplog muda Indonesia lebih menyukai cara penelitiandibelakang meja ini.

Antropologi Perkotaan

Gambar
Karya: S. Menno dan Mustamin Alwi Oleh: Dwi Surti Junida Pada awal perkembangannya, Antropologi memusatkan perhatiannya kepada masyarakat primitif. Perhatian ini timbul karena ada sesuatu yang dianggap sebagai keganjilan pada tingkah laku masyarakat tertentu, yaitu pada masyarakat pedalaman-pedalaman. Akan tetapi lama-kelamaan, mereka tidak lagi melihat tingkah laku itu sebagai sesuatu yang ganjil, melainkan sebagai sesuatu yang masih dekat dengan alam, dan masih berada dalam tahap perkembangan. Dan pada saat itu Antropologi memusatkan perhatiannya pada masyarakat tersebut. Karena ternyata masyarakat primitif itu telah semakin maju dan teradaptasi ke dalam masyarakat modern, maka perhatian antropologi selanjutnya beralih pada masyarakat pedesaan. Hampir seluruh aspek kehidupan desa telah diteliti dan diungkapkan. Karena itu, perhatian para antropolog pada tahap berikutnya, mulai beralih ke kota. Ada beberapa alasan yang digunakan untuk mengalihkan dan memperluas perhatian me...